About Shoegaze…
Diambil dari salah satu forum di internet dimana saya lupa siapa penulisnya. Tapi saya rasa benar-benar bermanfaat untuk orang-orang yang ingin tahu ataupun yang belum mengenal apa itu “shoegaze”, karena masih banyak orang yang cenderung menganggap aliran musik ini aneh (khususnya di Medan).
Shoegaze.
Sebuah kalimat yang mungkin kurang familiar didengar, namun kerap kali kita mengetahuinya dalam sebuah perbincangan atau topik yang berhubungan dengan musik atau aliran musik. apa itu shoegaze? apakah sebuah merk sepatu baru? atau makanan? berikut hal-hal yang perlu diketahui tentang shoegaze, agar kalian tidak terkecoh dengan “apakah shoegaze itu?“.
Shoegaze dapat dikatakan sebagai ’style’ atau gaya bermusik alternative, yang pada awalnya populer pada era akhir 1980s di Inggris Selatan atau Southern England tepatnya. Tercetusnya nama shoegaze sendiri, awalnya hanyalah sebuah ‘kecelakaan’ dimana pada saat itu Andy Ross, founder dari Food Records yang menaungi band seperti Lush dan Moose saat itu mendeskripsikan ekspresi para member dari bandnya, yang dimana pada saat setiap kali perform, mereka sangat terkonsentrasi dengan efek pedal gitar mereka dan selalu menunduk ke arah bawah (ke arah pedal efek) pada saat perform. Akhirnya terciptalah term Shoegaze yang berarti ‘menunduk ke sepatu‘.
Shoegaze sendiri memiliki ciri khas dan karakter, dimana dalam musiknya terdapat efek gitar berlayer yang noisy, volume dan tone vokal yang subduksi dan cenderung gloomy serta hampa. Ciri khas shoegaze pun ditambah dengan tidak adanya dominasi lead gitar (”lead-guitarlessness”), dan band shoegaze biasanya kerap memasukkan unsur drum machine dalam pattern drum-drum mereka, namun tidak sedikit juga yang memasukkan unsur live drumming atau keduanya seperti Chapterhouse (yang kadang menggunakan sample juga), Pale Saints, dan Lush era Chris Acland yang menggunakan live drumming. Oleh karena itulah karakter musik shoegaze cenderung self-depreciating dan introspektif. Sounds gitar dalam shoegaze lebih didominasi riff-riff rhythm yang dimana sangat kaya unsur noise dan efek ‘fuzzbox’ a la wall of soundsnya Phil Spector.
Shoegaze kerap juga disebut sebagai ‘ambient‘ atau ‘dream pop‘, ‘ethereal‘ juga ‘blisspop‘. Namun pengaruh goth pun cukup mempengaruhi shoegaze sebagaimana digambarkan dalam Cocteau Twins, Dead Can Dance, atau Everything But A Girl. Bahkan triphop pun cukup mempengaruhi shoegaze akibat gerakan Post Movement Shoegaze yang dimana ketika dedengkot-dedengkot pionir shoegaze hijrah ke post-rock dan triphop seperti Mono dan Portishead, Mark Gardener dan Loz Colbert dari Ride merilis album The Animalhouse, dan kemudian pecahan Slowdive menjadi alternative country dengan Mojave3nya. Kedengarannya rancu memang. Berkembangnya scene shoegaze pun menuju sampai titik dimana saat itu shoegaze disebut sebagai The Scene That Celebrates Itself pada awal 1990 yang menjadi term dalam menggambarkan scene shoegaze saat itu, antara London dan Thames Valley area.
Creation Records (My Bloody Valentine, Ride, Slowdive) dan 4AD records (Lush, Pale Saints) termasuk records yang turut mendukung eksistensi ‘term’ tersebut yang mengawali siklus awal perkembangan shoegaze. Post movement shoegaze (nugaze) terbentuk kemudian setelah muncul adanya band-band baru atau upcoming bands yang mengusung sounds yang variatif namun masih berasal dari roots yang sama seperti Sigur Ros, Black Rebel Motorcycle Club (album pertamanya), The Radio Dept., Asubi Seksu, Robin Guthrie, Mazzy Star, Autolux, M83, Experimental Aircraft and Engineers, The Raveonettes (yang soundsnya mirip dengan Jesus and Marychain banget, walaupun mereka sendiri tidak mengklaim sebagai band shoegaze (bisa dilihat dari cover depan album mereka kog) dan sebagainya.
Band-band nugaze terkadang mayoritas lebih sedikit memasukkan unsur vokal, dan lebih banyak memasukkan instrumen saja sebagai musiknya. Scene shoegaze sendiri pun bahkan semakin tersupport dengan adanya klub-klub scenester seperti Club Violaine di LA dan Club AC30 (www.clubac30.com) yang dimana setiap sabtu atau setiap minggu ketiga setiap bulannya, Club Violane mengadakan gigs yang diisi dengan band shoegaze dan ethereal. Club Violaine (www.myspace.com/clubviolaine) sendiri sudah berjalan selama 5 tahun.
Bagaimana dengan nasib scene band shoegaze lokal sendiri? Band-band lokal yang mengusungaliran ini memang masih cenderung sedikit dan kurang familiar, apalagi dengan masih kurangnya informasi tentang shoegaze itu sendiri di sini. Namun seperti The Milo, Sugarstar, Tribute To Delight, Belladonna, RuangHampa dan beberapa band lokal shoegaze lainnya cukup menandai eksistensi Shoegaze di scene independen lokal.
Maka bila suara vokal di setiap lagu-lagu beraliran shoegaze terdengar kurang diperhatikan, sebenarnya sudah amat sangat diperhatikan. Setiap komposisi suara di dalam lagu diatur sedemikian rupa sehingga semua unsur suara bisa memberikan suasana “penghayatan” bagi setiap pendengarnya. Bukan hanya memperdengarkan leadguitar seperti di metal, vokal si penyanyi di pop, ataupun rentetan drum di beberapa aliran trash.
-b1210-